Selama pandemi Covid-19, jumlah transaksi digital khususnya e-commerce terus meningkat. Hingga kuartal I tahun 2021, transaksi di e-commerce mencapai Rp 88 triliun dengan total 548 juta transaksi. Ini menjadi peluang yang sangat besar bagi UMKM untuk bisa memenuhi kebutuhan pasar online yang terbuka lebar.

Pemerintah mencanangkan program digitalisasi dengan target 30 juta pelaku UMKM sudah digital secara onboarding pada tahun 2024. Digitalisasi menjadi kunci utama dalam mendorong pemulihan ekonomi nasional. Melalui digitalisasi, diharapkan UMKM bisa lebih tahan banting dan bisa terus tumbuh meskipun di tengah pandemi Covid-19.

Direktur Bisnis dan Pemasaran Smesco Indonesia Wientor Rah Mada mengatakan UMKM yang onboarding saat ini mencapai 500 ribu setiap bulan dari berbagai platform e-commerce. Pada masa pandemi Covid-19 ini sudah bertambah hingga 6 juta. Sehingga total UMKM yang sudah onboarding menjadi 13.8 juta.

“Saat ini UMKM yang onboarding itu hampir 500 ribu setiap bulan di berbagai platform e-commerce, dan totalnya sudah sekitar 13.8 juta. Ini di kumpulkan dari berbagai macam e-commerce,” kata Wientor dalam sesi webinar Desain Produk Kreatif dan Onboarding UKM, Jum’at (23/07/2021).

Untuk meningkatkan onboarding UMKM masuk ke dunia digital, terdapat beberapa tantangan yang harus segera dicarikan solusinya. Pertama, terkait dengan literasi digital UMKM yang masih sangat rendah.

“Saya menemukan banyak temen-temen (UMKM) yang ketika kita ajarin bagaimana onboarding di salah satu paltform, masih ada yang nanya, Login itu apa? User itu apa ya? Bagaimana cara masuk?,” kata Wientor.

Kedua, kapasitas produksi UMKM yang masih kecil sehingga daya saing UMKM masih lemah, karena tidak bisa memenuhi permintaan yang besar. Modal yang tidak besar menjadikan kapasitas produksi UMKM menjadi kecil.

Kemenkop UKM sebenarnya sudah menemukan solusi dimana para pelaku UKM yang produksinya masih kecil dapat berkumpul dalam satu kategori yang sama untuk membentuk koperasi, sehingga dapat mengajukan pinjaman kepada Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB).

Kemudian yang ketiga, kualitas produksi dari UMKM yang belum konsisten atau cenderung rendah. Dan yang keempat, akses pasar yang masih belum optimal.

Smesco dalam waktu dekat akan melaunching Siren.id (Smesco Indonesia Retail Network), guna memperluas jaringan pemasaran produk UMKM di pasar domestik. Siren.id merupakan platform dropshipper dan platform reseller dimana produk UMKM akan di pasarkan oleh puluhan ribu dropshipper dan reseller dari seluruh Indonesia.

Selain itu juga Smesco akan membangun Smesco Fulfillment Center yang bekerjasama dengan YukBisnis dan JNE. Smesco UKM Fullfilment Center merupakan packing warehouse yang akan membantu biaya ekspedisi menjadi lebih murah.

Produk UMKM dari luar Jawa yang nantinya berada di Fulfillment Center akan memiliki kesempatan yang sama dengan produk UMKM dari Jawa itu sendiri, dimana ongkos kirim ke seluruh pulau Jawa akan di buat flat antara Rp 6.000 hingga 9.000.

“Terutama untuk temen-temen yang di luar Jabodetabek atau di luar Jawa, yang ingin memasarkan produknya di Jawa. Ini akan sangat berguna,” jelas Wientor.

Dengan luas mencapai 1.250 m2 Smesco Fulfilment Center dapat menampung 28.080 SKU dan 168.040 unit produk. Diperkirakan potensi UMKM yang terlayani mencapai 4.500 UMKM.

Diharapkan melalui Siren.id dan Fulfilment Center di Smesco ini, dapat membuka dan memperluas akses pasar bagi UMKM. Selain itu UMKM juga diharapkan mampu untuk segera melek digital. Karena, digitalisasi membantu menopang bisnis UMKM untuk bertahan di tengah pandemi Covid-19.