Mitra Kami

Selamat Datang di

Pusat Layanan UKM Smesco Indonesia

Smesco Indonesia adalah lembaga resmi di bawah Kementrian Koperasi dan UKM Republik Indonesia yang bertugas untuk membantu akses pemasaran bagi usaha kecil dan menengah. Silakan hubungi kami melalui saluran komunikasi di bawah ini.

Data UKM di Indonesia

UKM terdaftar dari seluruh wilayah Indonesia

48,152

44,978

Mikro (93%)

2,908

Kecil (6%)

267

Menengah (1%)
Daftarkan usaha anda menjadi mitra Smesco > Daftar Disini!

Peta Sebaran UKM di Indonesia

Silakan klik peta Indonesia di sebelah untuk mendapatkan data yang lengkap tentang sebaran UKM di Indonesia

Lihat Detail
Audit Mandiri CPPOB

Mau daftar BPOM khususnya untuk Produk Pangan Olahan ? Yuk coba lakukan Audit Mandiri Penerapan Cara Produksi Pangan Olahan Yang Baik (CPPOB) terlebih dahulu.

Smesco Fulfillment Center

Smesco Fulfillment Center adalah gudang penyimpanan barang untuk membantu para pelaku UKM untuk menyimpan barang, packing dan pengiriman yang akan dilakukan oleh tim Profesional Smesco Fulfillment Center.

Pembuatan Badan Usaha

Smesco Indonesia bekerja sama dengan Kontrak Hukum untuk membantu UKM dalam proses pembuatan legalitas badan usaha dengan mudah dan cepat.

Program Kami

Smesco Indonesia mengembangkan SPARC®️ Programs sebagai program unggulan dalam melayani KUKM di seluruh Indonesia yang terdiri dari SPARCTRAC®️, SPARCCAMPUS®️ dan SPARCTRADE®️

/ 01

Sparc Trac

Platform IKU digital bagi para pelaku UKM untuk mengukur apakah sebuah UKM telah naik kelas dan efektivitas program-program Sparc dalam upaya tersebut. Selain itu platform ini juga bertujuan untuk dapat menjadi dasar pertimbangan bagi rekan pembiayaan untuk memberikan pendanaan kepada sebuah UKM....

Lihat Detail
/ 02

Sparc Campus

Platform pelatihan vokasi yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan kemampuan para pelaku UKM dalam pengupayaan gerakan UKM naik kelas. Kelas dan pelatihan tersebut diselenggarakan oleh Smesco sendiri dan juga rekan pengajar yang telah terkurasi untuk melatih di berbagai sektor seperti fesy...

Lihat Detail
/ 03

Sparc Trade

Platform perdagangan yang bertujuan untuk membantu mempertemukan antara pasokan dan permintaan. Berbeda dengan platform seperti e-commerce atau marketplace, platform ini mendorong pihak penjual atau UKM sebagai pihak yang aktif mencari pembeli melalui daftar permintaan yang dibuat oleh para pembe...

Lihat Detail
thumbnail
Bisnis Travel Masa Kini dan Mengelola Open Trip yang Menguntungkan
thumbnail
Segudang Manfaat UKM Memiliki NIB (Nomor Induk Berusaha)
thumbnail
Webinar Smesco x Kontrak Hukum - Bikin PT Lebih Cepat dari Buat Kopi!
thumbnail
Kini Urus Hak Merek, Tak Lagi Sulit Tak Lagi Rumit

Berita Terbaru

Kekuatan YouTube & TikTok: Bagaimana Konten Video Membentuk Preferensi Gen Alpha
Sobat Smesco, transformasi digital bukan hanya memberikan peluang baru bagi UMKM tapi juga menuntut pelaku UMKM untuk memahami perubahan trend internet of things (IoT). Generasi Alpha, kelompok demografi termuda, berada diambang penentuan identitas budayanya menunjukkan adanya pergeseran besar dalam preferensi dalam menyerap informasi. Menilik generasi alpha, generasi ini lahir di dunia di mana perangkat digital ada di setiap sudut aktivitas kehidupannya, cluster generasi ini perlahan namun pasti sedang mengubah secara mendalam bagaimana para pelaku industri, pelaku pemasaran dan pelaku UMKM harus ‘pivot’ beradaptasi dengan inovasi digital marketing, merubah cara-cara komunikasi pemasarannya dengan menyamakan symbol kultur yang dipahami Gen Alpha. Mengapa pelaku UMKM, pelaku bisnis dan para industrialis mulai focus memperlajari budaya dan karakter konsumsi generasi alpha? Indikator awal, ruang pasar yang berkelanjutan dalam rentang sepuluh hingga dua puluh tahun mendatang akan diisi oleh generasi alpha yang akan menyerap konsumsi domestic.  Mereka tumbuh di lingkungan di mana hiburan, pendidikan, dan interaksi sosial sebagian besar terjadi secara digital, dan tidak ada yang lebih berpengaruh dalam membentuk preferensi mereka selain konten video pendek. Platform seperti YouTube dan TikTok bukan hanya sumber hiburan bagi Gen Alpha; mereka adalah mesin budaya, yang menggerakkan tren dan membentuk selera dengan cara yang belum pernah dilakukan oleh media lain sebelumnya. Kita pengguna internet telah menyaksikan kekuatan platform ini secara langsung. TikTok dan YouTube tidak hanya mengubah rentang perhatian pemirsa muda, tetapi juga mendefinisikan kembali bagaimana merek harus berkomunikasi agar tetap relevan di era baru yang sangat terhubung ini. Mari kita jelajahi bagaimana YouTube dan TikTok memengaruhi pilihan Gen Alpha dan apa yang bisa dipelajari pemasar dari kebangkitan platform-platform ini.   Kehadiran Video dalam Kehidupan Sehari-hari Gen Alpha Berbeda dengan generasi sebelumnya, yang televisinya merupakan media utama hiburan visual, Gen Alpha hidup di dunia yang didominasi oleh ponsel pintar dan TV android. YouTube, khususnya, telah menjadi platform utama mereka untuk segala hal mulai dari hiburan hingga pendidikan. Baik itu menonton walkthrough permainan, tutorial kerajinan DIY, atau lagu anak-anak animasi, YouTube menawarkan aliran konten yang tak ada habisnya yang disesuaikan dengan preferensi mereka. Demikian juga, TikTok, dengan video pendek yang cepat, menarik, dan sering kali interaktif, dengan cepat menarik perhatian Gen Alpha meskipun awalnya lebih populer di kalangan Gen Z. Algoritma TikTok yang jenius memastikan bahwa konten tidak hanya sangat dipersonalisasi, tetapi juga disajikan dalam format yang ringkas, menjadikannya sempurna untuk menarik perhatian pikiran muda yang ingin tahu. Uniknya dan tidak terbantahkan yang membuat platform ini sangat kuat adalah kebebasan yang mereka berikan. Gen Alpha bukanlah audiens pasif. Mereka menggunakan platform-platform ini untuk menemukan minat baru, mempelajari keterampilan baru, dan bahkan berpartisipasi dalam tren melalui konten yang dibuat pengguna. Platform-platform ini melatih mereka untuk mengharapkan kepuasan instan dan interaktivitas yang konstan, yang secara mendasar mengubah strategi  dan cara merek harus berkomunikasi dengan generasi ini.   Bagaimana Konten Video Membentuk Preferensi dan Pilihan Konten video membentuk preferensi Gen Alpha dengan cara yang halus namun mendalam. Pertama, mereka terpapar pada berbagai macam konten lebih luas dibandingkan generasi sebelumnya. Berbeda dengan TV, yang terikat pada jadwal program, YouTube dan TikTok memungkinkan mereka mengakses berbagai video sesuai permintaan. Kemampuan untuk mengeksplorasi berbagai topik ini telah membuat Gen Alpha sangat beragam dalam selera mereka. Satu saat mereka menonton video unboxing mainan terbaru, dan berikutnya, mereka belajar cara membuat robot sendiri. Generasi ini juga sangat melek visual. Tumbuh besar dengan menonton video membuat mereka sangat peka terhadap penceritaan visual. Merek yang ingin menarik perhatian mereka perlu mengadopsi pendekatan bercerita. Tidak cukup hanya mempromosikan produk; konten itu sendiri harus menarik, menghibur, dan memicu rasa ingin tahu. Itulah mengapa influencer dan kreator memiliki pengaruh yang besar pada generasi ini. Mereka tidak hanya mempromosikan produk; mereka membangun hubungan dengan audiens mereka, seringkali melalui narasi yang beresonansi pada tingkat yang lebih dalam. Salah satu tren yang terlihat, terutama di YouTube, adalah pengaruh edutainment—konten yang memadukan pendidikan dengan hiburan. Baik itu melalui eksperimen sains, mainan edukatif, atau aplikasi pembelajaran interaktif, Gen Alpha tertarik pada konten yang melibatkan rasa ingin tahu dan kreativitas mereka. TikTok, di sisi lain, menawarkan konten cepat dan mudah dicerna yang mengandalkan budaya FOMO (fear of missing out). Kecepatan tren dan tantangan di platform ini memengaruhi apa yang dianggap Gen Alpha sebagai hal yang keren dan relevan, dan siklus konstan dari hal-hal baru ini turut membentuk preferensi mereka yang terus berkembang.   Peran Influencer dan Konten yang Dibuat Pengguna Pendorong utama preferensi Gen Alpha di platform-platform ini adalah munculnya influencer anak-anak dan kreator yang ramah keluarga. YouTube, khususnya, telah menjadi taman bermain bagi kreator anak-anak yang, pada gilirannya, membentuk minat rekan-rekan mereka. Saluran seperti  Roblox, Flad and Nicky dan Like Natasya menarik jutaan pemirsa muda, memengaruhi preferensi mainan mereka, kebiasaan bermain game, dan bahkan pilihan mode. TikTok, meskipun masih sangat dimoderasi untuk audiens muda, memungkinkan anggota Gen Alpha yang sedikit lebih tua untuk bereksperimen dengan kreativitas mereka sendiri. Daya tarik TikTok terletak pada sifat viralnya—pengguna dapat dengan cepat mengikuti tren dan membuat konten yang mencerminkan sudut pandang pribadi mereka. Konten yang dibuat pengguna ini menciptakan rasa partisipasi yang sangat penting bagi generasi ini. Mereka tidak hanya mengonsumsi konten secara pasif—mereka adalah bagian dari konten itu sendiri. Merek yang memanfaatkan aspek partisipasi ini melalui tantangan, filter interaktif, atau hashtag bermerek dapat membangun keterlibatan yang lebih dalam. Bagi seorang pemasar UMKM, melihat pengaruh para kreator ini sebagai tantangan sekaligus peluang. Iklan tradisional tidak begitu beresonansi dengan Gen Alpha. Sebaliknya, mereka tertarik pada konten yang terasa autentik dan didorong oleh teman sebaya. Ini berarti merek harus menemukan cara untuk berkolaborasi dengan influencer atau bahkan menciptakan peluang bagi konten yang dibuat pengguna untuk mendorong keterlibatan secara organik.   Ketercepatan TikTok dan Kekuatan Konten Pendek Kenaikan pesat TikTok tak bisa diabaikan ketika membahas Gen Alpha. Video berdurasi 15-60 detik dirancang untuk menyampaikan konten berdampak tinggi dalam waktu sependek mungkin. Format ini sangat sesuai dengan kebiasaan digital Gen Alpha yang serba cepat. Kontennya mudah dikonsumsi, dibagikan, dan terus berkembang. Setiap hari, tren baru muncul, dan Gen Alpha sangat antusias untuk mengikuti perkembangan tersebut. Namun, dari semua hal tersebut yang membuat TikTok begitu menarik adalah algoritmanya. Algoritma ini sangat cerdas dalam mengkurasi konten berdasarkan perilaku pengguna, yang berarti Gen Alpha tidak hanya mengonsumsi konten secara acak—mereka menonton video yang semakin dipersonalisasi sesuai dengan selera mereka. Bagi pelaku UMKM, ini membuka peluang luar biasa untuk menargetkan konten lebih efektif, namun juga berarti standar kreativitas yang lebih tinggi dari sebelumnya. Jika video tidak menarik perhatian dalam beberapa detik pertama, video tersebut akan langsung digeser. Kunci sukses di TikTok bukan hanya viralitas—tetapi juga keterhubungannya. Gen Alpha menghargai konten yang terasa autentik, dan mereka bisa dengan mudah mengenali jika ada upaya penjualan yang dipaksakan. Merek yang ingin sukses perlu membuat konten yang lebih manusiawi, lebih relevan, dan langsung terhubung dengan percakapan serta tren yang sedang berlangsung di platform.   Pemahaman untuk UMKM: Apa yang Bisa Kita Pelajari Seiring dengan berkembangnya era digital, YouTube dan TikTok menawarkan pelajaran berharga bagi UMKM yang ingin terhubung dengan Gen Alpha: 1.    Prioritaskan Keaslian Gen Alpha mendambakan keaslian. Mereka tidak terkesan dengan iklan yang sangat diproduksi atau taktik penjualan yang jelas. Sebaliknya, mereka menginginkan konten yang terasa nyata, baik itu berasal dari influencer anak-anak atau merek yang mengutamakan cerita. Sebagai pemasar, kita perlu fokus untuk menciptakan konten yang asli, menghibur, dan mencerminkan nilai-nilai yang penting bagi generasi ini.   2.    Pahami Interaktivitas dan Partisipasi Era komunikasi satu arah telah berlalu. Gen Alpha ingin berpartisipasi, baik itu dengan membuat video TikTok mereka sendiri atau berinteraksi dengan tantangan di YouTube dari sebuah merek. Merek perlu menciptakan kesempatan bagi Gen Alpha untuk berkolaborasi dalam pembuatan konten, memanfaatkan sifat viral dari platform seperti TikTok untuk menyebarkan pesan mereka secara organik.   3.    Konten Pendek adalah Raja Kenaikan TikTok membuktikan bahwa rentang perhatian semakin pendek, tetapi itu tidak berarti Gen Alpha tidak terlibat. Mereka hanya menuntut konten berdampak tinggi yang disampaikan dengan cepat. Merek yang ingin tetap relevan perlu menguasai seni konten pendek, menyampaikan pesan yang kuat dalam hitungan detik.   4.    Kolaborasi dengan Influencer adalah Kunci Influencer memiliki dampak besar pada Gen Alpha, dan merek yang berkolaborasi dengan kreator yang tepat akan mendapatkan kredibilitas instan. Kemitraan ini harus autentik dan selaras dengan nilai-nilai influencer dan audiens mereka. Kolaborasi yang buruk dapat terasa dipaksakan, sementara kolaborasi yang autentik dapat mendorong keterlibatan yang nyata dan kedekatan merek.   5.    Siap Untuk Beradaptasi Platform seperti YouTube dan TikTok berkembang dengan cepat, begitu juga preferensi Gen Alpha. Pemasar perlu tetap gesit, terus memantau tren, dan menyesuaikan strategi konten secara real-time. Apa yang berhasil hari ini mungkin tidak berhasil besok, dan merek yang bisa beradaptasi dengan cepat akan tetap berada di depan.   TikTok dan YouTube keduanya menggunakan algoritma canggih untuk menyarankan konten yang relevan berdasarkan perilaku pengguna. Gen Alpha sangat terbiasa dengan algoritma ini yang menyesuaikan konten dengan preferensi mereka, sehingga mereka dapat menemukan video yang sesuai dengan minat mereka tanpa harus mencarinya. konten yang autentik, menghibur, edukatif, serta berinteraksi dengan audiens pada latform seperti TikTok dengan format video pendek (15-60 detik) memungkinkan Gen Alpha untuk mendapatkan hiburan dengan cepat, yang sangat cocok dengan rentang perhatian mereka yang lebih pendek dibandingkan generasi sebelumnya. Sobat UMKM, pastikan saat Sobat UMKM ingin berpromosi dan memasarkan produknya pada Gen Alpha, habitat cluster Generasi Alpha menginginkan kepuasan instan dan tidak suka menunggu atau menghadapi video yang terlalu lama dan membosankan.
Smesco Labo Inkubator dan LPDB Satukan Potensi, Akselerasi Pemasaran dan Pembiayaan Inklusi Bagi Koperasi
Jakarta, Januari 2025 Kementerian Usaha Mikro Kecil dan Menengah menyiapkan Smesco Indonesia sebagai inkubator bisnis dengan menjalin kolaborasi bersama Lembaga Pengelola Dana Bergulir-KUKM untuk mendorong para pelaku koperasi agar bisa memanfaatkan Smesco untuk mendapatkan mitra strategis yang mendukung ekspansi bisnis koperasi dari pemerintah. Direktur Utama Smesco Indonesia, Wientor Rah Mada mengatakan, tantangan utama yang dihadapi oleh koperasi dalam memperoleh pembiayaan adalah kurangnya jaminan atau agunan, lemahnya manajemen bisnis dan tidak mengenal pasar dengan baik, ketidakmampuan memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh lembaga keuangan, serta rendahnya literasi keuangan atau terjebak dalam sistem pinjaman yang kurang transparan, dikatakan Wientor Rah Mada (31/1) “Kolaborasi ini untuk memperkuat kapasitas kewirausahaan, inovasi koperasi dan UMKM melalui program inkubasi yang terbuka bagi seluruh pengurus koperasi di seluruh Indonesia tujuannya untuk meningkatakan kemampuan daya saing peserta, jadi nanti daya ‘gedornya’ (koperasi) makin kuat karena sudah mendapatkan pendampingan dan pembiayaan inklusi.” Ujar Wientor   Ditambahkan Wientor, program inkubasi ini merupakan program spesial bagi pengelola koperasi, pasalnya inkubasi tersebut berlangsung selama enam bulan, maka pasca kegiatan diharapkan koperasi-koperasi peserta program dapat terhubung dengan lembaga pembiayaan dan off takers (pasar). Kepala Bagian Inkubasi Bisnis Smesco Indonesia. Dicky Indrawan menambahkan, strategi dalam tahapan pelaksanaan program inkubasi dibagi menjadi tiga tahap antara lain; Pra inkubasi, Inkubasi dan Pasca inkubasi. Dikatakannya tahap pra-inkubasi melibatkan seleksi peserta sosialisasi program, identifikasi kriteria dan variable yang menentukan kelayakan, serta sesi assessment untuk koperasi. Lanjutnya, tahap inkubasi mencakup modul pelatihan yang terbagi dalam tiga cluster utama; Training, Mentoring dan Coaching bertujuan untuk memberikan pengelola koperasi keterampilan strategis dalam perencanaan bisnis, pemasaran, keuangan, tata Kelola serta pemanfaatan teknologi untuk mendukung pertumbuhan koperasi. Imbuhnya, tahap pasca inkubasi merupakan masa evaluasi dan graduasi bagi koperasi peserta. Pada tahap ini koperasi sudah diharuskan memiliki peningkatan kemampuan aspek sumber daya manusia maupun kelembagaan, seperti penguasaan pasar, pemahaman terhadap kompetisi, serta kemampuan merumuskan solusi berbasis masalah. Dikky Indrawan menambahkan, para calon peserta saat ini sudah bisa mendaftar melalui link bio profile Instagram Smesco Indonesia; bit.ly/Smesco-Indonesia atau dapat menghubungi Bagian Inkubasi Bisnis Smesco Indonesia di +62 857 7222 2382 pungkasnya.
Strategi Good Brand vs Bad Brand: Membangun Citra Merek UMKM yang Kuat dan Menghindari Kejatuhan
Sobat SMESCO, dalam dunia usaha yang semakin hyper kompetitif ini, citra merek (brand image) adalah aset berharga yang dapat mempengaruhi keputusan pembelian konsumen. Seiring kemajuan teknologi dan media sosial, cara konsumen memandang merek juga semakin berkembang. Merek yang baik (good brand) cenderung memiliki loyalitas pelanggan yang kuat, sementara merek yang buruk (bad brand) dapat cepat terpuruk dan membawa bisnis sengkarut. Oleh karena itu, penting bagi pelaku UMKM memiliki strategi yang jelas dalam membangun merek yang positif dan menghindari kebiasaan yang dapat merusak citra merek. Sobat Smesco, artikel ini bertujuan untuk saling sinau (belajar) bareng, membahas perbedaan antara Good Brand dan Bad Brand serta langkah-langkah aplikatif untuk mengimplementasikan strategi membangun merek yang sukses bagi sobat UMKM. Sebelum menelisik lebih jauh izinkan kami bertanya, pertama-tama apakah sobat Smesco sebagai pejuang rupiah telah memiliki persyaratan sebagai warga UMKM? Apabila belum, hayok sobat Smesco segera deh kontak Pusat Layanan UKM punyanya SMESCO, yaa. Simpan nomor teleponnya di phone book sobat, nih nomernya 0813-1078-6655. Sobat SMESCO nanti bisa berkonsultasi banyak hal, kita bantu sobat SMESCO dari pembuatan perizinan Nomer Induk Berusaha, pengurusan sertifikat Halal, pengurusan sertifikat BPOM, juga pembuatan legalitas Hak Kekayaan Intelektual (HaKI) biar brand produknya sobat SMESCO jadi makin cakep, makin dikenal publik dan makin dicintai customer. Sebagai informasi buat sobat Smesco niiih, sepanjang tahun 2024,  sudah ‘lebih dari 2300 warga memiliki KTP UMKM’ (legalitas usaha) berkat kolaborasi Pusat Layanan UKM SMESCO dengan para pelaku UMKM di seluruh Indonesia. Pada tahun 2025 ini Smesco Indonesia akan membantu sobat Smesco lebih giat lagi melengkapi berbagai persyaratan legalitas tersebut agar sobat semua dari seluruh Indonesia terdaftar sebagai pelaku UMKM resmi, jangan ditunda ya. Banyak lho manfaatnya buat sobat Smesco bila telah memiliki legalitas UMKM, salah satu manfaatnya, yang pasti akan dirasakan sobat UMKM adalah rasa percaya konsumen saat membeli produk sobat Smesco. Nah, kembali ke laptop…….   Apa Itu Good Brand? Merek UMKM yang baik, adalah merek yang dikenal karena memiliki reputasi yang solid dan kredibilitas tinggi di mata konsumen. Barang boleh lokal produk, tapi merek UMKM harus punya kualitas, punya layanan penjualan yang konsisten, orientasi tata kelola bisnisnya menciptakan hubungan kuat dengan pelanggan, serta mengelola komunikasi efektif dengan customer. Good brand tidak hanya menjual produk atau layanan, tetapi juga memberikan pengalaman nilai yang lebih kepada konsumen. Berikut adalah ciri-ciri dari Good Brand: Ciri-Ciri Good Brand: Kualitas Produk yang Konsisten: Produk atau layanan yang ditawarkan memiliki kualitas serta value product-nya terjaga dengan baik. Konsumen tahu    bahwa mereka dapat mengandalkan produk ini untuk memenuhi kebutuhan mereka. Inovasi dan Diferensiasi: Good brand selalu berusaha untuk tetap relevan dengan terus berinovasi dan menyesuaikan diri dengan perkembangan pasar. Kepercayaan Pelanggan: Konsumen percaya pada merek tersebut, karena merek tertentu tersebut selalu memenuhi janji yang diberikan dan                  bertanggung jawab atas produk yang mereka tawarkan. Kepercayaan Pelanggan: Konsumen percaya pada merek tersebut, karena merek tertentu tersebut selalu memenuhi janji yang diberikan dan                  bertanggung jawab atas produk yang mereka tawarkan. Hubungan Emosional dengan Pelanggan: Good brand mampu membangun ikatan emosional dengan pelanggan, menciptakan loyalitas yang                berkelanjutan. Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan: Merek yang baik seringkali memiliki kebijakan dan praktik yang berfokus pada tanggung jawab sosial dan      berkomitmen mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Apa Itu Bad Brand? Merek yang buruk, di lain sisi, sering kali berjuang dengan masalah reputasi, kualitas produk yang buruk, atau pengelolaan yang tidak efektif. Produk dengan reputasi bad brand dapat membuat kondisi penurunan penjualan yang drastis, kehilangan pelanggan, dan bahkan menghadapi kegagalan di pasar.  Ciri-Ciri Bad Brand: Kualitas Produk yang Buruk: Produk atau layanan yang ditawarkan tidak memenuhi harapan konsumen, sering kali cacat atau tidak dapat diandalkan. Pengalaman Pelanggan yang Negatif: Bad brand cenderung gagal memberikan pengalaman pelanggan yang memadai, sering kali menanggapi          keluhan dengan lambat atau tidak sama sekali. Komunikasi yang Buruk: Bad brand tidak dapat menyampaikan pesan yang jelas kepada konsumen atau memiliki citra yang kabur dalam benak       audiens. Kehilangan Kepercayaan: Merek yang buruk sering kali melanggar janji yang mereka buat kepada pelanggan, baik itu terkait dengan kualitas produk,  harga, atau waktu pengiriman. Kurangnya Tanggung Jawab Sosial: Merek buruk tidak peduli terhadap dampaknya pada lingkungan atau masalah sosial yang ada, yang pada              gilirannya bisa merusak citra mereka. Strategi Membangun Good Brand Membangun merek yang baik memerlukan komitmen dan perencanaan yang matang. Berikut adalah langkah-langkah strategis yang dapat diterapkan oleh sobat Smesco untuk menciptakan sebuah brand UMKM bertumbuh menjadi Good Brand. Berikut beberapa langkah aplikatif bagi sobat Smesco untuk membangun good brand: Fokus pada Kualitas Produk: Langkah Praktis: Pastikan produk UMKM yang ditawarkan sobat Smesco selalu memenuhi atau melebihi standar yang diharapkan oleh konsumen.        Lakukan pengujian produk secara berkala untuk memastikan kualitasnya. Jika perlu, tingkatkan kualitas melalui inovasi atau perbaikan berkelanjutan. Contoh: Brand Fashion MSMO fokus pada kualitas desain produk mereka pada anak-anak muda Gen Z, yang memiliki karakteristik merepresentasikan diri melalui penampilan stylish menurut selera masing-masing, menjadi salah satu alasan utama brand lokal ini menawarkan koleksi outfit kekinian      yang limited stylish edition dengan harga yang dapat dijangkau oleh gen Z. Kenali Pelanggan Anda: Langkah Praktis: Lakukan riset pasar untuk memahami kebutuhan dan preferensi pelanggan. Gunakan data ini untuk menyesuaikan produk dan          layanan bisnis sobat UMKM agar lebih relevan bagi target audiens.  Contoh: This Is April (TIA) hadir di pasar Indonesia sebagai brand fashion pakaian siap pakai (ready to wear) dengan rentang usia konsumen 21-35      tahun, menghadirkan desain model kekinian dan harganya terjangkau. Produk-produk This Is April yang dijual dengan harga dibawah 300 ribu rupiah ini memiliki ciri khas yang menjadikannya keunggulan kompetitif. Tim This Is April mampu meluncurkan 30 model pakaian baru setiap minggunya  menyesuaikan desain mereka dengan preferensi lokal yaitu desain mengikuti tren, nyaman dipakai, mudah dipadu-padankan (easy to mix and match), dan terjangkau (affordable). Kebiasaan cara-cara tim This Is April mewujudkan keinginan customer serta menjadikan customer sebagai reverensi          pertumbuhan bisnis mereka. Kini, This Is April telah hadir di banyak kota di Indonesia, bahkan telah merambah pasar Malaysia. Ke depannya, This Is    April akan masuk ke pasar Singapura, Vietnam, dan juga Brunei.  Komunikasi yang Konsisten dan Jelas: Langkah Praktis: Pastikan semua saluran komunikasi merek, mulai dari media sosial hingga iklan tradisional, menyampaikan pesan yang jelas dan        konsisten. Beberapa dari Anda mungkin sudah sangat akrab dengan brand yang sudah sangat identik dengan kota atau tokoh tertentu. Nah, hal        tersebut adalah salah satu contoh dari pembentukan karakter brand. Gunakan elemen visual yang dapat dikenali, seperti logo dan desain produk,        untuk memperkuat identitas merek (brand identity). Urusan brand akan selalu erat kaitannya dengan logo, nama brand, gaya tulisan, simbol dan hal    lain sebagainya. Berbagai hal ini sangat penting karena hal tersebutlah yang akan pertama kali dirasakan oleh pelanggan. Contoh:  Brand Diana Restu produk pakaian muslim merupakan salah satu brand yang sukses menerapkan strategi brand identity. Latar Diana yang    pernah berkarir di perusahaan nasional barangkali menjadi inspirasi yang memberi warna pada identitas Diana Restu. Mulai dari outfit yang diproduksi mengusung tema casual, kantoran, dan formal. Penampilan Diana yang mengenakan hijab juga menginspirasinya untuk memproduksi pakaian-            pakaian yang cenderung tertutup, seperti atasan tangan panjang, tunik, dan celana panjang. Diana memilih identitas ini karena sesuai dengan taste-    nya, yang memang cenderung dengan gaya tersebut.  4. Bangun Kepercayaan dengan Pelanggan: Langkah Praktis: Untuk membangun kepercayaan, perusahaan perlu memastikan bahwa mereka selalu memenuhi janji mereka, baik itu terkait dengan  pengiriman, kualitas, atau pelayanan purna jual. Contoh: Sobat Smesco coba deh beri customer kamu dengan layanan pelanggan yang luar biasa, di mana kamu memberikan pengembalian barang    yang mudah tanpa biaya tambahan, menciptakan kepercayaan yang kuat dengan pelanggannya, semoga tips ini bisa memberikan diferensiasi yang    memberikan penglaman paripurna di customer kamu. 5. Berikan Nilai Lebih dan Tunjukkan Tanggung Jawab Sosial: Langkah Praktis: Perusahaan dapat berfokus pada tanggung jawab sosial dengan meminimalkan dampak lingkungan, mendukung kegiatan amal, atau berpartisipasi dalam inisiatif sosial. Hal ini akan membangun citra positif yang tidak hanya berfokus pada keuntungan semata. Contoh: Du Anyam, berpartisipasi dalam inisiatif sosial dengan upaya mereka mendukung perubahan sosial, seperti mempromosikan keadilan sosial  dan mendukung keberlanjutan lingkungan. Du Anyam merupakan sebuah perusahaan sosial dengan misi memberdayakan perempuan penganyam di pedesaan Indonesia Timur melalui kerajinan tangan tradisional Nusa Tenggara Timur.   Transformasi Good Brand vs Bad Brand Menjadi Rich Brand vs Poor Brand Dalam dunia pemasaran modern, perkembangan dan reputasi sebuah merek memiliki dampak yang sangat signifikan terhadap keberhasilan bisnis. Di masa lalu, istilah “good brand” dan “bad brand” seringkali lebih berfokus pada kualitas produk atau layanan yang ditawarkan. Namun, seiring dengan berkembangnya teknologi dan perubahan perilaku konsumen, paradigma ini mulai bergeser. Kini, konsep tersebut telah berkembang menjadi dua kategori yang lebih relevan dalam konteks ekonomi kontemporer: Rich Brand dan Poor Brand. Robert T. Kiyosaki, menawarkan pandangan yang unik tentang bagaimana seseorang atau perusahaan dapat mengelola aset dan membangun kekayaan. Kiyosaki lebih menekankan pentingnya pengelolaan finansial yang cerdas, pendidikan finansial, serta pemahaman tentang perbedaan antara aset dan liabilitas dalam dunia bisnis. Ketika diterapkan dalam konteks merek (brand), konsep-konsep yang diajarkan oleh Kiyosaki dapat memberikan panduan yang berguna dalam membangun merek yang sukses atau menghindari merek yang buruk. Lebih lanjut, kita akan melihat bagaimana kerangka pikir Robert T. Kiyosaki dapat diterapkan untuk membangun ‘Rich Brand’ dan menghindari ‘Poor Brand’, serta langkah-langkah strategis yang dapat diambil oleh UMKM atau individu untuk mencapai tujuan tersebut. Kerangka Pikir Robert T. Kiyosaki dalam Dunia Merek Salah satu konsep utama yang diajarkan Kiyosaki adalah perbedaan antara aset dan liabilitas. Dalam konteks merek, aset adalah segala sesuatu yang mendatangkan uang atau keuntungan, sementara liabilitas adalah segala sesuatu yang menghabiskan uang atau sumber daya tanpa menghasilkan nilai jangka panjang. Ketika diterjemahkan ke dalam dunia merek, Good brand bisa dianggap sebagai aset yang menghasilkan keuntungan jangka Panjang. Untuk bertransformasi menjadi Rich brand, sebuah merek perlu lebih dari sekadar produk berkualitas — ia harus mampu beradaptasi dengan perubahan pasar, berinovasi secara terus-menerus, dan menciptakan nilai yang berkelanjutan. Rich Brand adalah merek yang tidak hanya sukses dalam penjualan, tetapi juga dalam menciptakan ekosistem yang mendukung nilai ekonomi jangka panjang.  Dalam perspektif ini, rasanya tidak terlalu berangan-angan bagi seorang pelaku UMKM diera digitalisasi artificial intelligence dan keterbukaan sistem informasi seperti sekarang, kini menentapkan time line sebuah brand UMKM yang sobat SMESCO bangun, kemudian dimasa mendatang, brand yang sobat Smesco bangun mampu memiliki multy platform support system untuk mendukung bisnis sobat UMKM hingga bertransformasi menjadi sebuah sistem kapitasi yang memiliki nilai pasar berkelanjutan bagi investor. Pada tahap inilah brand UMKM sobat Smesco berhasil shifting bertubuh menjadi Rich Brand.  Sebaliknya, Poor Brand adalah liabilitas yang menguras sumber daya, merusak reputasi perusahaan, dan menyebabkan kerugian yang tidak terhitung jumlahnya. Rich Brand sebagai Aset Sebuah merek yang baik dapat dilihat sebagai aset yang tidak hanya mendatangkan keuntungan finansial, tetapi juga membangun pondasi jangka panjang untuk perusahaan. Dalam kerangka pikir Kiyosaki, merek yang kuat adalah sesuatu yang bisa mendatangkan pendapatan pasif dan meningkatkan nilai pasar perusahaan. Ciri-Ciri Rich Brand dalam Perspektif Kiyosaki: Menghasilkan Pendapatan Berkelanjutan (Cash Flow): Kiyosaki selalu menekankan pentingnya aliran kas yang positif. Sebuah merek yang baik harus mampu menghasilkan pendapatan berkelanjutan yang tidak hanya tergantung pada produk atau layanan musiman, tetapi juga menciptakan sumber daya yang terus berputar. Contoh Aplikasi: Perusahaan-perusahaan UMKM yang sudah naik kelas, diantaranya berhasil membangun system franchise, sukses membangun merek yang kuat yang terus menghasilkan pendapatan dari penjualan produk, langganan, dan hak cipta. Mereka tidak hanya menjual produk tetapi juga      menciptakan ekosistem yang mendatangkan keuntungan jangka panjang. Penciptaan Aset yang Menguntungkan: Kiyosaki mengajarkan pentingnya menciptakan aset yang dapat memberikan pengembalian finansial yang tinggi. Merek yang baik adalah aset yang    tidak hanya mendatangkan keuntungan langsung tetapi juga membangun ekuitas yang dapat dihargai oleh investor dan pasar. Contoh Aplikasi: UMKM bidang food and beverages (FnB) emiten minuman kekinian PT Platinum Wahab Nusantara Tbk. (TGUK) brand Tegug telah      berhasil go public atau melantai di Bursa Saham Indonesia. Nilai dari perdagangan dilantai bursa menciptakan citra merek yang kuat mendukung nilai pasar serta brand equity yang bisa mengarah pada peluang pendanaan, pengembangan produk baru, dan ekspansi pasar. Menjaga Reputasi dan Loyalitas Pelanggan: Menurut Kiyosaki, aset yang baik harus memiliki kemampuan untuk berkembang dan bertahan lama. Reputasi yang baik membantu sebuah merek        untuk mendapatkan kepercayaan. Loyalitas pelanggan kami ibaratkan seperti gerakan politik bawah tanah - tidak terlihat tapi terasa getarannya.    Ketika sobat Smesco sukses mendapatkan loyalitas pelanggan, hal baik tersebut menciptakan aliran kas yang stabil dan bertahan lama - merupakan      karakteristik utama dari sebuah aset. Diversifikasi Pendapatan: Salah satu pelajaran utama dari Kiyosaki adalah pentingnya diversifikasi pendapatan. Rich Brand mampu menciptakan beragam sumber pendapatan,    baik melalui produk baru, ekspansi pasar, ataupun akuisisi serta mengupayakan bisnis terhindar dari kejenuhan pasar. Sobat Smesco, apapun jenis bisnis yang sobat jalankan, sobat Smesco harus siap untuk beradaptasi dengan perubahan pasar dan melakukan              diversifikasi merek untuk mengurangi ketergantungan pada satu sumber pendapatan. Buat sobat UMKM di Inonesia, salah satu upaya bertumbuh kuat Bersama dalam bisnis, yaitu terkoneksi dalam ekosistem UMKM Smesco Indonesia, langkah praktis yang sobat Smesco bisa lakukan yakni                      berkonsultasi dengan Pusat Layanan UKM Smesco melalui WhatsApp +6281310786655 untuk memperkaya literasi bisnis, serta memperluas          jangkauan pemasaran dan meningkatkan ekuitas merek sobat Smesco.    Dalam dunia yang semakin terhubung dan cepat berubah, perbedaan antara Rich Brand dan Poor Brand bukan hanya soal kualitas produk, tetapi lebih kepada bagaimana merek beradaptasi, inovasi yang berkelanjutan, dan menciptakan hubungan yang kuat dengan konsumen. Merek yang dapat        mempertahankan relevansi mereka dengan mengutamakan pengalaman, keberlanjutan, dan diferensiasi, akan menemukan jalan menuju keberhasilan finansial yang lebih besar.  Sebaliknya, mereka yang gagal beradaptasi dengan perubahan pasar dan kebutuhan konsumen, berisiko terjebak dalam ketidakpastian perang harga, pengurangan kualitas bahan baku produksi dan stagnasi yang mempengaruhi keberlanjutan merek itu sendiri.  Salah satu konsep penting yang diajarkan Kiyosaki adalah bahwa kerugian jangka panjang sering kali disebabkan oleh reputasi yang rusak. Biaya untuk memperbaiki citra merek yang buruk sering kali jauh lebih besar daripada biaya untuk membangun merek yang kuat dari awal.
Smesco Indonesia